Tampilkan postingan dengan label BLOK CEPU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLOK CEPU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 April 2010

Rekruitment Naker, MCL Transparan

Walaupun pengerjaan super besar di blok cepu masih menunggu selesainya proses tender, tetapi operator Mobil Cepu Limited telah mengambil ancang-ancang jauh-jauh hari.

Salah satunya adalah rencana menggandeng pihak Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos), untuk proses rekruitmen tenaga kerja. Masalah mekanismenya, nanti akan dibahas lebih detail lagi, tetapi MCL menekankan, kalau semua proses rekruitment harus dilakukan dengan cara yang transparan.

Eksternal Relations Manager MCL, Deddy Afidick, kepada beritajatim.com, Rabu (21/4/2010) menyebutkan, jika dengan transparansi yang dilakukan, maka tidak ada gesekan-gesekan di masyarakat. "Calon tenaga kerja juga dapat mengakses informasi yang tepat sesuai dengan kwalifikasi yang diinginkan," katanya.

Nantinya, proses rekruitment diharapkan tetap melibatkan pihak dinas terkait dan desa yang ditempati operasi. Sehingga, keterlibatan masyarakat bisa diakomodir.
"Yang jelas, kami tidak bisa memuaskan semua pihak. Masyarakat bisa melihat, kwalifikasi yang benar-benar cocok dengan kemampuan masing-masing," tambahnya.

Seperti diketahui, saat ini operator migas blok cepu tengah melakukan proses tender untuk 3 item mega proyek. Diantaranya adalah untuk pengerjaan Central Processing Facility (CPF), pipanisasi 72 kilometer (km) di darat yang mengarah ke Tuban dan pipanisasi 23 km ke lepas pantai dan menara tambat.

Selain itu, dalam waktu dekat juga akan segera dilakukan proses tender untuk 2 item mega proyek lainnya, yakni untuk pengerjaan floating storage and offloading (FSO) dan pengerjaan sipil serta infrastruktur di sekitar CPF.

Dengan keberadaan 5 item proyek yang ditaksir nilainya sampai 1 miliar USD tersebut, maka kebutuhan pekerja akan sangat besar dengan waktu yang cukup lama. Antara 3 tahun sampai 4 tahun proses pembangunan.beritajatim.com

Share:

Sabtu, 10 April 2010

Polemik Blok Cepu, Giliran Perwakilan Pro Kasun Datangi Dewan

Polemik di wilayah blok cepu, khususnya di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro terus memanas.

Kamis lalu, warga dan LSM Angling Dharmo Bojonegoro, mendatangi Mapolres Bojonegoro untuk melaporkan dugaan pemalsuan identitas yang dilakukan Kasun Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Wanuri. Dugaan pemalsuan identitas tersebut digunakan oleh terlapor untuk mengurus sewa tanah desa untuk keperluan explorasi minyak dan gas (migas) Blok Cepu yang dioperatori Mobil Cepu Limited (MCL).

Selang enam hari, giliran pihak perangkat desa dan perwakilan warga yang Pro Wanuri mendatangi Kator DPRD Kabupaten Bojonegoro, Rabu (7/4/2010). Sebanyak 9 orang tersebut diterima oleh Komisi A DPRD Bojonegoro. Di antara yang datang adalah Ketua BPD, Santoso dan Kaur Umum, Sihar.

Kepada Komisi A DPRD Bojonegoro, Ketua BPD, Santoso mengatakan, apa yang dilaporkan oleh LSM Angling Dharmo itu tidak benar. "Sebab, semuanya sudah sesuai dengan prosedur yang ada dan tidak ada masalah," katanya.

Menurutnya, selama ini di desa tidak ada masalah dan hanya segelintir orang yang tidak senang terhadap kasun saja yang ingin membuat ulah di desa. "Yang benar itu, ada teror kepada warga melalui selebaran belakangan ini," tambahnya.

Teror itu mengancam warga dan menakut-nakuti. Sehingga, ia meminta kepada dewan untuk mengusut tuntas siapa dalam semua ini.

Hal senada dijelaskan oleh Kaur Umum Desa Bandungrejo, Sihar. Menurutnya, sejauh ini tidak masalah dan Desa Bandungrejo yang merupakan wilayah eksplorasi dan eksploitasi Blok Cepu yang dioperatori Mobil Cepu Limited (MCL) baik-baik saja.

"Yang jelas, semua yang dilakukan pada hari Kamis lalu ke Polres Bojonegoro tidak benar dan tidak ada dasarnya," sambungnya. (dul/eda)

Share:

Selasa, 23 Februari 2010

Terminal Cepu Dianggarkan Rp 1,1 M

Keinginan sebagian masyarakat Cepu dan sekitarnya memiliki terminal angkutan penumpang yang representatif segera terwujud. Menurut rencana mulai tahun ini terminal yang paling ramai di Blora itu akan direhab. Dana yang dianggarkan sebesar Rp 1,1 miliar. Dana tersebut berasal dari bantuan Pemerintah Provinsi Jateng.


Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Blora, Dwi Santoso melalui Kepala Bidang Pos dan Telekomunikasi (Postel), Sukarjo, mengatakan, perencanaan rehab terminal itu telah selesai disusun Pemkab Blora. Dalam penyusunannya, kata dia, tim Pemkab antara lain melakukan studi banding ke terminal Bojonegoro. Menurutnya, dibutuhkan dana sekitar Rp 4 miliar lebih untuk menjadikan terminal Cepu lebih representatif. ''Pembangunannya dilakukan bertahap untuk beberapa tahun. Untuk tahun ini anggaran yang tersedia sebesar Rp 1,1 miliar,'' ujarnya kemarin.

Pemkab,lanjut Sukarjo, sebelumnya mendapat masukan dari masyarakat yang meminta terminal Cepu segera direhab. Alasannya, beberapa insfrastruktur di terminal mengalami kerusakan. Diantaranya halaman parkir serta beberapa bagian bangunan induk yang mendesak segera diperbarui. ''Masukan tersebut direspon Pemkab. Di antaranya mengupayakan pembangunan dari pos bantuan Pemprov,'' tegasnya.

Menurut Sukarjo, infrastruktur terminal yang akan perbaiki tahun ini diantaranya tempat parkir, pintu dan ruang tunggu penumpang. Sesuai perencanaan, calon penumpang yang hendak memasuki terminal Cepu akan dipungut peron. ''Itu untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD),'' ungkapnya.

Dibanding dengan terminal lainnya di Blora, terminal Cepu merupakan terminal paling sibuk. Setiap hari bus-bus antarkota antarprovinsi transit dan menunggu penumpang di tempat itu. Beberapa bagian di terminal itu sudah sejak lama tidak difungsikan. Ruang tunggu penumpang kini berubah menjadi tempat biliar. (ono)

Share:

Rabu, 10 Februari 2010

Blok Cepu Masih Lumpuh, Warga Pasang Portal

Sejak kemarin hingga saat ini, akses ke blok cepu masih lumpuh total. Sebab, warga yang menuntut kompensasi uang tunai akibat bau busuk masih memasang portal.

Tak tanggung-tanggung, empat titik diblokir oleh puluhan warga. Diantaranya adalah dua titik di Desa Brabuhan, satu titik di Desa Gayam, keduanya di Kecamatan Ngasem.
Selain itu juga ada di Dusun Ngaglik, Desa Katur, Kecamatan Kalitidu yang berbatasan langsung dengan Desa Ringintunggal, Kecamatan Ngasem.

Pantauan beritajatim.com di lapangan, Rabu (10/2/2010) menyebutkan, sejumlah warga yang rata-rata didominasi oleh pemuda itu bergerombol di masing-masing titik.
Dengan portal yang melintang di jalan, mereka hanya memperbolehkan warga lokal saja berada disana dan tidak untuk kendaraan proyek ke Gas Oil Separation Plant (GOSP) atau ke Lapangan Banyuurip, di Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.

Koordinator Aliansi Masyarakat Banyuurip Peduli Amdal, Supolo membenarkan, tuntutan warga yang melakukan pemblokiran masih seperti kemarin. "Yakni, komepensasi tunai diberikan kepada mereka yang terdampak. Khususnya korban bau busuk dari GOSP atau Early Production Facility (EPF)," katanya.

Menurutnya, sampai sekarang operator blok cepu, Mobil Cepu Limited (MCL) masih belum menyetujui adanya kompensasi uang tunai ke warga. "Sehingga, terpaksa kami lakukan presure seperti ini," terangnya.

Ditanya sampai kapan pemblokiran jalan akan terus dilakukan? Supolo mengaku tidak mengetahuinya. Yang pasti, sampai tuntutan warga dipenuhi. "Kalau MCL masih ngotot, maka warga tetap akan memblokir jalan ke blok cepu," tambahnya.

Selama ini masyarakat sudah cukup bersabar dengan kondisi yang terus dirugikan dan menjadi sasaran dampak pengeboran minyak blok cepu. "Masyarakat ingin diperhatikan benar-benar oleh operator, biar kedepannya lebih enak kehidupannya," sambung Supolo.

Seperti diketahui, beberapa kali pertemuan antara warga dan MCL tidak menemukan solusi yang berarti. Warga tetap pada pendiriannya dan mendesak segera dicairkan kompensasi uang tunai, sedangkan MCL enggan merealisasikannya. [dul/kun]

Share:

Sabtu, 06 Februari 2010

Warga Blok Cepu Masih Trauma Bau Busuk

Walaupun bau busuk yang kemarin sore tercium cukup menyengat sudah tidak muncul lagi, tetapi warga tetap was-was.

Terbukti, semalam banyak yang belum nyenak dalam tidur, karena terpikiran dengan kejadian sebelumnya. Sebab, dua kali mereka menderita akibat bau busuk yang menusuk hidung dan menyesakkan dada.

Beberapa warga yang menjadi korban bau busuk, Sabtu (6/2/2010) mengaku bingung akan berbuat apa. Sebab, rumah mereka sejauh ini terus menjadi sasaran bau busuk.

"Kami yakin, bau kemarin yang tercium dari Early Production Facility (EPF) atau bisa juga disebut Gas Oil Separation Plant (GOSP)," kata salah seorang korban, Parman.

Seperti diketahui, Parman adalah salah satu diantara tiga korban yang sampai harus mendapatkan bantuan oksigen untuk pernafasan.

Selain Parman, ada juga Marpuah dan Rumiyati. Ketiganya warga Desa Brabowan, Kecamatan Ngasem. Sebab, untuk bernafas mereka sangat sulit dan harus dapat alat bantuan.

Tidak hanya mereka bertiga, ada belasan korban lain yang mual-mual dan bahkan hingga muntah. Seperti dialami oleh Tasmi, Sadinem, Lasiran, Sikin, Srini, Gami, Rukminah, Sati, Mariman, Supiyah dan Listiyati.

"Yang pasti, sampai sekarang ini kami masih ketakutan jika bau tersebut muncul," tegas Sikin.

Ditambahkan, rasa was-was itu masih akan terbawa. Sebab, sejauh ini GOSP tetap akan berproduksi hingga kedepannya. "Bagaimana tidak takut, kalau dampaknya begitu terasa bagi warga," lanjutnya.

Sementara itu Kades Brabowan, Prihadi membenarkan, kalau masyarakatnya banyak yang masih ketakutan. Itu semua karena dampak munculnya bau dari sekitar GOSP.
"Itu sangat wajar, karena warga yang terkena secara langsung dampaknya," terangnya.[dul/ted]

Share:

Senin, 01 Februari 2010

Tiga Hari Lagi Sumur Sembilan Berproduksi

BOJONEGORO - Tim BP Migas sudah melakukan inspeksi kejadian menyebarnya gas H2S (hydrogen sulfida) di sumur minyak 9 Sukowati di lapangan A Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro. Kejadian Rabu (28/1) malam lalu itu menyebabkan sebagian warga Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas keracunan. "Namun, hasil pemeriksan semua nromal," ungkap Field Manager Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) Sukarnoto Sukimin, kemarin (31/1). Tim BP Migas melakukan inspeksi dan pemeriksaan terjadinya tendangan gas (gas kick) di sumur Sukowati, Sabtu (30/1) lalu.

Sukarnoto mengungkapkan, saat ini sumur 9 belum bisa diaktifkan untuk berproduksi. Sebab, berbagai persiapan terus dilakukan untuk bisa berproduksi lebih aman lagi. Dia memperkirakan sumur 9 baru bisa berproduksi sekitar dua hingga tiga hari lagi.

Apalagi, saat ini pemasangan well head (kepala sumur) juga sudah selesai. Selain itu, berbagai peralatan lainnya juga terus ditingkatkan, seperti gas detector. Termasuk tenaga pemantau gas yang berada di luar lapangan atau sweeper. "Atas kejadian beberapa hari lalu itu kini kami sudah lebih siaga dan berhati-hati lagi agar kejadian serupa tak akan terulang," tandasnya.

Terkait penyelidikan yang dilakukan Polres Bojonegoro, Sukarnoto mengakui sudah menerima surat pemberitahuan dari polres. Dia menyatakan tidak masalah dan terbuka terhadap apa yang dilakukan polres.

Terpisah, Kapolres Bojonegoro AKBP Agus Saripul Hidayat menyatakan, penyidikan dilakukan polisi untuk mengetahui sejauh mana prosedur tetap (protap) sudah dijalankan oleh JOB P-PEJ. Alasannya, kalau protap dilakukan dengan benar, sebelumnya sudah ada pemberitahuan terlebih dulu kepada warga di sekitar lapangan minyak. "Ini kan awal atau istilahnya pulbaket (pengumpulan bahan dan keterangan)," ujarnya.

Sementara itu, Pemkab Bojonegoro hingga kini masih menunggu realisasi perhitungan kompensasi dan biaya pengobatan warga korban gas H2S di Campurejo. "Kami sudah minta perangkat desa mendata korban keracunan gas H2S," papar Wakil Bupati Bojonegoro Setyo Hartono.

Dia memastikan, pemkab belum turun tangan langsung menyangkut masalah kompensasi atas kejadian itu. Pemkab baru turun tangan kalau dalam pemberian kompensasi terjadi selisih pendapat antara masyarakat dengan JOB P-PEJ. "Sepanjang pemberian kompensasi dan penanganan biaya pengobatan berjalan normal, semuanya kami serahkan kepada kedua belah pihak," tegasnya. (ade)

Share:

Sabtu, 24 Oktober 2009

2011, 57 Thousand Tembus BPH

Peak Oil Field Production Sukowati

BOJONEGORO - peak oil production in Bojonegoro Sukowati field is projected to reach 57 thousand barrels per day (CPD) in the upcoming 2011. The amount is projected to come from two locations, namely Pad A Campurrejo Village, District Bojonegoro and Pad B at Ngampel Village, District Cotton.

"Production of top 57's of thousands of BPH according to plan was reached in 2011 by conducting field pengembangaan Sukowati oil wells," said Acting Field Manager of the Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) Budi Tambunan, yesterday (23/10).

He explained that the development undertaken is looking for new locations to increase production wells outside the oil wells that already exist on Pad A and Pad B.

"Target found under the potential oil reserves, is only now looking for suitable locations for drilling," he said. Prospect's potential oil reserves, he added, after previously by seismic research in the area of Tuban Block incoming Sukowati field.

Currently, said Budi, at Pad A and Pad B Sukowati field each have six producing oil wells with a total of 37 thousand BPH. On Pad B, according to the scenario you want to add another three oil wells, the wells 14, 15, and 16, which targets the drilling work completed in 2010.

To reach the peak production was 57 thousand BPH, according to Budi, will still be coupled with drilling three oil wells are still looking for the right location. "The location we were looking for oil wells Sukowati 17, 18, and 19," he explained.

Thus, all calculated in the field of oil wells in Bojonegoro Sukowati can produce 57 thousand BPH is expected to be achieved in 2011. Budi said, it is most probably due to continued efforts made to maintain and increase oil production from the field Sukowati. "For example Sukowati 9 oil wells that fail to produce,''he said

In addition, Budi said, the institute also conducts repairs of oil wells on Pad 1 Sukowati A continuing decline in production. Previously, Sukowati 1 could produce 3 thousand barrels. However, now only able to remove oil BPH 400. "Well, now is being sought can range from 1000 BPH to produce, by taking a layer of oil on top," he added.

Budi added, the average production of all oil wells in Bojonegoro range Sukowati BPH 2500-3900. Clearly, the trend of oil production from the field in Bojonegoro Sukowati still showed a tendency to increase. "Unlike the Mudi field in Tuban that in recent years shows a decrease. The fruit of 19 oil wells produce only 2600 BPH," he added. (ade)

Share:

Senin, 19 Oktober 2009

Production Ready Cepu Block 20 thousand bpd

Phase II Banyuurip initial production wells, Cepu Block, run smoothly and achieve maximum results. From day to day flow rate (production rate) of oil from wells in the village of Mojodelik, Sub Ngasem, Bojonegoro, East Java, it continued to increase. "All the equipment works well as during the first phase of production take place," said MCL Exsternal Relations Manager, Deddy Afidick as confirmed by phone on Thursday (15/10/2009).


However, he admitted could not calculate exactly how many Banyuurip average daily production. Therefore, the calculation of the average production per day is calculated not based on just numbers or a particular day. But the level of average production is determined from the amount of the total production divided by the number of days. For example expressed in average production per day of the year. "Certainly we are ready to do a full production of 20 thousand barrels per day," said the man Native Sundanese of West Java this.

According to him, the amount of production depends on the buyer Banyuurip. Because as production sharing contractors (KPS), MCL only duty of the oil out to Banyuurip Oil Gas Separations Plant (GOSP) or the Early Production Facility (EPF) in accordance with the needs of the buyer. "Phase II, we have to operate in accordance with the agreement. So if the buyer is ready, we are also ready to increase the flow rate on demand, "he said.

In stage II banyuurip production is centered in all activities GOSP. Where in the Phase II activities that used to be burning at the well site has been transferred Banyuurip in GSOP. In the combustion in this GOSP MCL using 90 m-high chimney Sizes higher than Body's Operating Join Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ), the Mudi, Tuban. "Arson is not in GOSP continues over time. Just as in the production of this second phase, "explained Deddy.

After successfully carrying out the production of Phase II, now MCL has prepared an initial production phase III. That will inject gas and water that has been separated from the oil banyuurip. "All stages in the production of our established fixed. Us because they want to achieve good results by maintaining safety during the events going on, "he concluded. (bojonegoro.go.id/Kominfo)
Share:

Sabtu, 17 Oktober 2009

Open a New Field, Job P-PEJ hampered Permit

BOJONEGORO - Plan Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) to open a new field in the South East Mudi, District Soko, Tuban delayed. Cause, permission from Tuban regency has yet to fall. ''Our plan is to open a new field in the village of Soko Pandanwangi district,''said Operations Manager JOB P-Lotong to PEJ Marthen Bojonegoro Radar.

He said, permission had been submitted to Pemkab Tuban few months ago. Until yesterday (16/10) the proposed permit has not been approved. Marthen do not know the reason for the decline have not permission to open a new field in the Tuban Block. ''We're hoping to come down,''he hoped.

According to him, PEJ JOB P-2010 production target at Tuban Block 45 thousand barrels per day. After a 12 wells in operation, the current production has reached Tuban Block 41 thousand barrels per day. ''With the new field, then the target will be met we try,''he added.

Next year JOB P-PEJ planning another drill two wells on Pad B Sukowati in Ngampel Village, District Cotton, Bojonegoro. Ie, wells 14 and 15. The Well''will not increase oil production, but to maintain oil production in the range of 45 thousand barrels per day,''he said.

He explains, Tuban Block peak production will last for three years after production of 45 thousand barrels per day. Itupun''there are some wells that will decline. So we need a new well in order to survive the production,''he said.

Pit flare issues in CPA Mudi, authentic Toraja man explained, his side are currently exploring to move some flare pit in Sragen. To stop the fire at the flare pit, he said, is not possible because it is tantamount to halt oil production. Therefore,''we are still looking for the best solution,''he said.

Share:

Rabu, 07 Oktober 2009

Ask MCL Give Compensation

Begadon Villagers, District Ngasem incorporated in Community Communication Forum Banyuurip and Jambaran (FKMBJ) asked MCL, Cepu Block operator, responsible. This step in response to a toxic gas generated from oil drilling in the region.

Coordinator FKMBJ Parmani express, due to a toxic gas that came out when production early on Thursday (1 / 10), some local residents claimed to dizziness and nausea. However, yesterday the gas gradually disappear

The incident, hoping MCL FKMB compensation to dozens of residents affected by this gas. MCL hoped Parmani minimize

of pollution from drilling. "Both of noise and other pollution," he said.

Besides asking for responsible, FKMBJ also would seek clarification related to the MCL hired labor. The reason, FKMBJ labor rate MCL recruited mostly from outside the area. While local residents less ignored. "And in the near future, the demands of our citizens will be submitted to the MCL," he added. If

within three days urging citizens to ignore MCL, FKMBJ threatened to strike.

Share:

Senin, 07 September 2009

Block Cepu Must With Head Cold Finished

Observers suggested that oil Kurtubi Cepu Block issue resolved peacefully and did not play threat. Although still regrets the delay in production of Exxon Mobil's done, but seeing this Kutrubi must be resolved by rational.


''Should be seen as wise and calm,''he said when contacted Kurtubi Republika, Monday (7 / 9). According to Kurtubi in this case all parties including the government (Ministry of Energy and Mineral Resources), BP Migas, business operators in this case Exxon and Pertamina and the local government should sit down together to discuss a comprehensive settlement.

Kurtubi added mechanisms operating current contract is a mutual agreement. Where it was agreed the distribution share is 85 percent of central government and 15 percent of the operator. Of this 15 percent 45 percent divided separately Exxon, Pertamina and 45 percent local government share of 10 percent.

According to Kurtubi, who became leader in this project is Exxon and they have undertaken efforts to develop infrastructure. ''But for two years is very significant obstacles, regarding land acquisition,''said Kurtubi.

Yet these obstacles must be resolved early on together.''So far, all parties were like their own ways so difficult that a protracted, but not a solution konferenshif,''asserted Kurtubi. cep / ahi

Share:

Kamis, 06 Agustus 2009

Gebyar Expo Cepu'09 Dibuka

Setelah menggelar expo di Lamongan dan Bojonegoro, Citra Pamerindo Abadi kemarin membuka pameran pembangunan di Kecamatan Cepu, Blora. Acara itu secara resmi dibuka Staf Ahli Bidang Pembangunan Setkab Blora Setyo Edy sekitar pukul 16.30.

Dalam sambutannya dia menyatakan, acara pameran pembangunan itu cukup positif dalam mendongkrak perkembangan perekonomian daerah. Alasannya, puluhan pengusaha dapat memamerkan berbagai produk unggulan, utamanya produk lokal.



Dalam pameran bertajuk Gebyar Expo Cepu'09 itu tak hanya dipamerkan bursa mebel, buku, properti, otomotif, komputer, dan kerajinan lokal. Juga dihadirkan satwa langka berupa ular raksasa dan wahana bermain anak. Bagi pengunjung yang suka hiburan, juga disediakan orkes melayu (OM). Artis dangdut seperti Rena KDI dan Lilin Herlina, serta trio Zhebra siap menggoyang panggung hiburan yang ada di arena pameran yang digelar di lapangan Ronggolawe Cepu tersebut.

Waktu kunjungan ke pameran ditentukan mulai pukul 15.00 hingga pukul 22.00 untuk Senin sampai Jumat. Sementara Sabtu-Minggu dan hari libur nasional jam buka ditentukan pukul 10.00 sampai pukul 22.00.(radar bojonegoro)
Share:

Rabu, 24 Juni 2009

Cepu Block to start production late August

The Upstream Oil and Gas Executive Agency (BP Migas) has predicted that Banyu Urip oil field in the Cepu block in Bojonegoro district, East Java, will start production as early as late August 2009.

The construction of a 32-km pipeline from Palang to the crude oil collecting facility owned by Petrochina at Mudi had been completed, BP Migas Deputy Chief Abdul Muin said here on Monday.


"The construction of the problematic pipeline has been completed," he said.

Muin said the agency was now waiting for the completion of a mini refinery owned by PT Tri Wahana Universal (TWU) with a capacity of 6,000 barrels per day.

The construction of the refinery had yet to be completed as the contractor still had to wait for equipment from the United States, he said.

"The refinery equipment is likely to arrive in the third or fourth week of July. The equipment will later undergo a two-week commissioning test. So it will start production only at the end of August," he said.

The start of the oil field`s production estimated at 20,000 barrels per day (bpd) has been several times delayed as some parts of the project are behind schedule.

Earlier, the government has targeted that the oil field would start production late last year.

The Cepu block is expected to see its peak production of 165,000 bpd in 2012 or 2013.

Because of the delay in the start of the oil field`s production since January 2009, BP Migas had lost a potential revenue of US$150 million, Muin said.

Three factors had caused the delay, including slow land clearance and a natural disaster in Houston, the United States.

The House of Representatives Commission VII overseeing energy and mineral resources, research and technology and the environment has set up a team to address the matter

Share:

Kamis, 28 Mei 2009

Cepu Block oil field to commence production in August

The Cepu block oil field in Bojonegoro, East Java, will commence its initial production of 20,000 barrels per day in August this year, spokesman of MCL oil operator of the field, Arti Soedarsono said.



"The initial production of the Cepu Block oil field will be carried out in August with a daily production capacity of 20,000 barrels per day," Soedarsono said here on Tuesday.

He said that the initial production of the oil field had been delayed for two months from the first quarter of 2009 to August 2009 due to technical reasons.

"The specifications of several equipment components have to be changed," he said.
Share:

Senin, 09 Februari 2009

TerMemprihatinkanminal Cepu

BLORA - Kondisi terminal Cepu cukup memperihatinkan. Sebab, ruas jalan di dalam maupun di sekeliling terminal rusak parah. Kerusakan sarana terminal tersebut tak jarang menyebabkan rusaknya mobil. Sejumlah awak angkutan umum meminta Pemkab Blora segera memperbaiki kerusakan tersebut. ''Beberapa waktu lalu ada bus yang pirnya patah setelah melewati jalan yang berlubang-lubang itu,'' ujar Adi, salah seorang awak angkutan umum kemarin.

Menurut dia, beberapa kali keluhan disampaikan kepada pengelola terminal. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut. Atmaji awak bus lainnya menyatakan pelataran parkir di Terminal Cepu kini ''dihiasi'' dengan beberapa lubang yang cukup lebar. Tanda-tanda kerusakan jalan, kata dia, sudah terlihat sejak tahun lalu. Tidak adanya penanganan segera dan turunnya hujan menjadikan kerusakan semakin parah. Air hujan tergenang di lubang tersebut. ''Tolonglah terminalnya segera diperbaiki,'' tandasnya.

Farid salah seorang warga Cepu mengatakan, mestinya Pemkab Blora malu melihat kondisi Terminal Cepu saat ini. Sebab, terminal merupakan pintu gerbang menuju suatu daerah. Jika terminalnya rusak, kata Farid, warga dari luar daerah akan beranggapan kondisi yang sama juga dengan mudah ditemui di Blora. ''Kerusakan sarana di Terminal Cepu sebenarnya terjadi sejak lama. Sebagai warga Cepu, kami malu atas kerusakan itu,'' tuturnya.

Selain halaman parkir, lubang menganga di tengah jalan juga terlihat di pintu masuk terminal dari arah Blora. Kerusakan itu menyebabkan tak ada lagi bus yang melewati jalan tersebut. Para sopir lebih memilih menerobos pintu keluar terminal ketika akan masuk terminal. Kerusakan jalan juga tampak di depan kompleks terminal mulai dari perempatan SPBU hingga pasar. Di jalur itu banyak air tergenang. Lubang di tengah jalan terlihat pula di belakang terminal. Jalan tersebut selama ini dilalui kendaraan yang ingin masuk maupun keluar dari komplek pasar.

Kepala Terminal Cepu, Agus Supriyanto menyatakan, pihaknya telah berulang kali melaporkan kondisi terminal kepada Pemkab. Dia mengaku banyak mendapat keluhan dari para sopir atas kerusakan jalan di kawasan terminal. ''Perbaikan terminal pernah kami usulkan beberapa kali. Kewenangan perbaikan bukan pada kami karena pengelolaan terminal melibatkan instansi lain,'' katanya. (ono)(sumber:jawa pos)
Share:

Sabtu, 31 Januari 2009

Minta MCL-EMOI Ajak Rekanan Buka Kantor

BOJONEGORO - Bupati Bojonegoro Suyoto meminta Mobil Cepu Limited (MCL) dan ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI) untuk mengajak rekanannya membuka kantor di Kota Ledre ini.

''Harapannya setelah itu mereka bisa membuka NPWP (nomor pokok wajib pajak) di Bojonegoro. Dengan demikian, bagi hasil Bojonegoro bisa lebih banyak karena potensi pajak dalam proyek ini (Blok Cepu) cukup besar,'' katanya seusai menerima petinggi EMOI dan MCL di rumah dinas bupati kemarin (30/1).

Selain itu, Suyoto mengaku juga meminta EMOI dan MCL untuk memaksimalkan pengembangan Blok Cepu. ''Kalau mundur-mundur lagi, malah bisa semakin gak jelas,'' imbuhnya.

Dalam pertemuan itu, bupati didampingi Pelaksana Tugas Harian (Plh) Sekkab Soehadi Moeljono. Sementara EMOI diwakili Manager Development Public Affairs Deva Rachman. Sedangkan dari MCL hadir Manager Development Limited Arti N Sudarsono dan deputinya Yogi Santosa, serta Rexi Mawardijaya.

EMOI dan MCL dalam pertemuan itu memberikan laporan mengenai perkembangan Blok Cepu. Di antaranya, rencana penyelenggaraan workshop bulan depan di Bojonegoro.

Selain itu, EMOI dan MCL melaporkan peningkatan produksi 20 ribu barel pada kuartal pertama tahun ini dan penyertaan tenaga lokal yang mencapai 60 persen lebih.

Kepada Radar Bojonegoro, Deva Rachman menjelaskan bahwa saat ini pihaknya sedang mempersiapkan sumur Banyuurip A5. ''Dan pengiriman (minyak) ke Mudi, Soko terus dilakukan,'' katanya. (ade)
(SUMBER: RADAR BOJONEGORO)
Share:

Sabtu, 10 Januari 2009

Target produkis Blok cepu tak pernah mundur

Dalam pertemuan dengan Bupati Bojonegoro Suyoto Divisi Eksternal BP MigasAmir Hamzah menjelaskan target Produkis Blok cepu tak pernah mundur.

Dia menjelaskan sejak awal pihaknya mentaregtkan Blok cepu bisa berproduksi pada Akhir Maret. Sementara untuk saat ini pihaknya berusaha melakukan percepatan. ''Produksi awal Blok cepu dilakukan saat pipa sudah jadi kalau sekarang ini adalah minyak pembersihan,'' tuturnya

Dia juga menututkan saat ini seluruh peralatan untuk early production Facilities (EPF) sudah berada di Indonesia dan tlah mulai dikirimm ke Banyuurip Desa mojodelik kecamatan Ngasem. Bahkan pemasangan pipa antara banyuurip dan EPF sudah akan dimulai.''ya tinggal itu saja,'' tegasnya

Hanya mengenai target Maret tersebut dia menuturkan baru bisa akan dicapai bulan April. Sebab menurutnya ada gangguan Topan di Amerika yang menyebabkan mundurnya pengiriman peralatan.''tapi sekarang sudah tak masalah,'' tegasya

Sementara itu Bupati Bojonegoro Suyoto menjelaskan agar dia juga diberikan data terbaru mengenai perkembangan Blok cepu. Sebab saat ini pihak pemkab sedang membahas RT RW dan dia ingin sinkron dengan Blok cepu. ''paling tidak Work Shop harus segera dilaksanakan agar kita tahu arah pembangunan unutk kita,'' tegasnya. (ade)
Share:

Jumat, 26 Desember 2008

Minta Dipekerjakan, Demo

BOJONEGORO - Puluhan warga Desa Ngampel Kecamatan Kapas kemarin (25/12) menggelar unjuk rasa di depan lokasi pengeboran minyak Sukowati Pad B. Mereka menuntut operator sumur, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB PPEJ) mempekerjakan mereka.

Selain itu, warga juga menuntut pembangunan fasilitas umum. Seperti, penerangan jalan umum (PJU), peningkatan jalan desa dan jalan lingkungan. ''Sebelumnya, PetroChina telah menyanggupi untuk melakukan hal itu. Namun, hingga kini belum dilakukan,'' kata salah satu warga.

Aksi itu nyaris ricu. Penyebabnya, warga menolak membubarkan diri. Sikap berlawanan ditunjukkan petugas kepolisian dari Polres Bojonegoro. Mereka ngotot meminta warga bubar. Alasannya, warga tak mengantongi izin untuk menggelar aksi itu.

Suasana terus memanas saat salah seorang warga berusaha melakukan penutupan paksa portal ke lokasi sumur 7 dan 8 itu. Namun, upaya itu digagalkan petugas dengan memperingatkan warga itu. ''Kita sudah memberi mentoleransi, jangan bikin ulah,'' tegus salah seorang petugas.

Suasana sempat tenang. Namun, beberapa saat kemudian kembali terjadi adu urat saraf antara warga dan petugas. Hal ini dipicu keengganan mereka untuk bubar. Bahkan, warga nekat untuk berorasi. Namjun, suasana berangsur tenang saat dua perwakilan warga diterima pihak JOB PPEJ dalam pertemuan terttutup.

Sementara itu, menanggapi warga, pihak JOB- PPEJ mengaku sudah kooperatif dan melaksanakan kewajibannya sebagai operator. ''Soal rekrutmen, kami telah menyarankan agar melalui outsourching. Yakni, PT Natura Bina Mitra (MBM) untuk melibatkan warga sekitar pada pekerjaan non skill,'' Field Administration Superintenden (FAS), Ahmad Rizani kemarin.

Menurut informasi yang ia terima, pihak MBM sudah menyampaikannya kepada pihak desa setempat. Namun, hingga batas akhir yang ditentukan belum ada jawaban atau nama-nama warga yang direkomendasikan untuk direkrut.

''Seharusnya hari ini adalah hari pertama para pekerja masuk kerja. Rekrutmen itu dilakukan langsung pihak outsourching, bukan JOB PPEJ'' kata Rizani.

Untuk menyelesaikan persoalan itu, menurut dia pihaknya bakal menggelar pertemuan dengan pemerintah setempat, termasuk melibatkan pihak kecamatan. (dim)
Share:

Pelantikan, Gelar Dialog Migas

BOJONEGORO - Tema minyak dan gas (migas) seakan tidak akan pernah berhenti di bicarakan. Seperti yang dilakukan badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Sunan Giri kemarin. Mereka menggelar dialog bertema Sampai kapan rakyat menjadi korban PetroChina. Dialog itu dilaksanakan dalam rangka pelatikan pengurus BEM setempat.

Presiden BEM STAI Sunan Giri M. Roziqin mengatakan, dalam dialog itu pihaknya mengundang beberapa narasumber. Antara lain, kepala Bagian Pertambangan Pemkab Bojonegoro dan perwakilan warga sekitar sumur migas Sukowati.

''Sebenarnya kami juga mengundang perwakilan dari JIB PPEJ. Namun, mereka tidak datang dengan alasan masih banyak acara,'' katanya.

Sementara itu, dalam paparannya, kabag Pertambangan Erick Firdaus menyatakan, pemerintah mendapatkan total 85 persen dari hasil migas. Sedangkan, 15 persen lainnya dibagi antara operator dan daerah penghasil. ''Bojonegoro sendiri mendapat bagian 6,3 persen,'' terangnya. (dim)
Share:

Jumat, 12 Desember 2008

Hari Ini Kembali Uji Coba Sumur 9

BOJONEGORO - Setelah beberapa hari lalu sempat dihentikan, pengeboran Sumur Sukowati 9 hari ini kembali diujicobakan. Field Manager Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) Victory Surya Kirana berharap sumur tersebut mengeluarkan minyak dalam uji coba hari ini.

Dia menjelaskan, selama tiga hari lalu, uji coba terhadap sumur tersebut dihentikan. Victory beralasan pihaknya ingin memperbaiki sumur itu dengan cara melakukan penyemenan. ''Kalau sudah kering akan kami tembak lagi,'' katanya.

Meski sumur 9 masih uji coba, JOB P-PEJ sudah membidik pengeboran sumur 10 di Pad B Sukowati, Desa Ngampel, Kecamatan Kapas. Menurut Victory, saat ini pengeboran sumur itu tinggal menunggu inspeksi dari BP Migas. ''Mungkin minggu depan untuk inspeksi BP Migas,'' ujarnya.

Menurut dia, saat ini rig sudah berdiri di Pad B. Pemasangan beberapa perlengkapan juga terus dilakukan agar rig siap dioperasikan.

Sementara itu, Acting Field Manager Budi Tambunan menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi kemungkinan kebocoran gas dalam uji coba hari ini. Di antaranya, pemasangan sensor gas. ''Selain juga ada sweeper yang berada di sekitar lokasi pengeboran,'' katanya. (ade)
Share: