Jumat, 09 Januari 2009

KTI Tuntutan Profesionalisme

SURABAYA - Pendaftaran semiloka pendidikan dan diklat IT tengah berlangsung. Guru-guru yang berminat mengikuti semiloka dalam rangka Program Untukmu Guruku 2009 ini bisa mendaftarkan diri hingga 15 Januari 2009. Hanya, pendaftaran diklat IT terpaksa ditutup karena kuota sudah penuh.

Program Untukmu Guruku 2009 menyelenggarakan empat semiloka. Yakni, Semiloka Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Karya Tulis Ilmiah (KTI), Menulis Bahan Ajar (MBA), dan Pembelajaran Inovatif (PI). Untuk semiloka Karya Tulis Ilmiah, materi akan disampaikan Drs Suyono MPd.

Menurut Suyono, salah satu kriteria untuk menilai profesionalisme guru adalah melalui KTI. "Tapi, sampai hari ini, setelah dievaluasi, kemampuan para guru menulis KTI masih lemah," katanya.

Kelemahan penulisan, kata dia, terlihat pada kuantitas maupun kualitas. Selama ini jumlah guru yang menulis KTI jauh lebih sedikit daripada yang tidak menulis. Jumlah guru yang tidak bisa menulis KTI juga lebih banyak daripada yang mahir menulis. "Perbandingannya bisa mencapai 70 : 30," katanya.

Dari sisi kualitas, hasil penilaian KTI yang dibuat para guru menunjukkan masih banyak kekurangan dari segi bahasa. Tidak semua pendidik mampu membuat KTI dengan bahasa yang baik dan benar. "Bahkan, mereka cenderung memakai bahasa yang sulit dimengerti dan tidak ilmiah," tuturnya.

Kelemahan-kelemahan itu, tambah Suyono, membuat pemerintah prihatin. Karena itu, sejak 2006 pemerintah memberikan dana block grant KTI untuk guru, yang disalurkan melalui lembaga penelitian. "Dengan dana tersebut, pemerintah berharap banyak guru yang tertarik membuat KTI," ujarnya.

Bantuan dana itu juga dimaksudkan agar para pendidik tidak stagnan berada pada golongan IV/a. Berdasar data di kepegawaian, banyak guru yang karirnya terhenti pada golongan tersebut. Mereka tidak naik ke golongan IV/b karena ada syarat wajib pembuatan KTI. "Dengan adanya block grant, diharapkan banyak guru yang naik pangkat karena telah membuat KTI," ujar Suyono.

Menyadari pentingnya KTI untuk para guru, dalam semiloka mendatang, pria kelahiran Jombang 20 Juni 1960 itu menyatakan akan memberikan materi yang jelas dan lengkap tentang KTI. Dari kriteria pembuatan KTI hingga trik bagaimana memulai menulis KTI yang baik dan benar.

Hal-hal tersebut, kata Suyono, perlu dikuasai para guru. Sebab, membuat KTI susah-susah gampang. Susah bagi guru yang tidak terbiasa menulis, gampang bagi guru yang sudah terbiasa. "Selama ini masih banyak guru yang mengeluh sulit membuat karya tulis," katanya.

Keluhan mereka pun kurang lebih sama. Rata-rata mereka mengaku kesulitan mencari sumber pustaka yang digunakan sebagai acuan dalam pembuatan KTI. Saking sulitnya, ada pendidik yang memperjuangkan KTI tanpa disertai kajian pustaka.

Tentu hal tersebut tidak dapat diterima. Sebab, KTI selalu berhubungan dengan kajian pustaka. "Bahan pustaka tidak perlu yang tinggi-tinggi," ujarnya. Yang penting, literatur tersebut sesuai KTI yang akan dibuat, setara dengan kemampuan yang dimiliki, dan mencukupi kebutuhan dalam pembuatan KTI. (may/soe)
Share:

0 komentar: