Jumat, 16 Januari 2009

IHSG Bursa Efek Indonsia dan Rupiah Merosot

Indeks-Rupiah Terus Tertekan

JAKARTA - Kolapsnya pasar saham di tingkat regional dan global berdampak negatif pada indeks pasar modal tanah air. Kondisi ini juga langsung berpengaruh pada melemahnya nilai tukar rupiah yang dalam perdagangan kemarin ditutup melorot ke level Rp 11.194 per dolar AS.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mencerminkan tren transaksi perdagangan saham juga ditutup luruh 43,412 poin (3,13 persen) menjadi 1.343,494. Indeks LQ-45 turun 11,567 poin (4,19 persen) menjadi 264,254 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 8,868 poin (3,97 persen) menjadi 214,441.

Chief Economist Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan menilai kondisi pasar saham global berkontribusi langsung pada merahnya angka-angka indikator finansial dunia, termasuk Indonesia.

"Kalau pasar saham global turun, indeks pasar modal akan turun. Ini akan juga dirasakan oleh nilai tukar rupiah di Indonesia," ujarnya di Jakarta kemarin (15/1).

Fauzi menilai bahwa dalam satu semester ke depan nilai mata uang rupiah tetap akan rentan akibat belum pulihnya perbankan AS. Perangkap likuiditas membuat perbankan AS tidak lagi bisa mengucurkan dolarnya ke perbankan-perbankan di Asia dan belaha dunia lainnya.

"Akibatnya likuiditas dolar masih akan ketat. Meski suku bunga The Fed sudah diturunkan 0,25 persen, namun karena memang tidak ada likuiditasnya, maka mereka (perbankan AS) belum mengucurkan dolarnya," paparnya.

Perekonomian AS yang masih lumpuh masih menjadi penyebab utama belum terbukanya keran dolar tersebut. Kondisi ini diperparah oleh rentannya pasar modal tanah air yang diguncang oleh berbagai masalah.

Pada awal perdagangan, indeks pasar modal langsung melemah 2,87 persen di level 1.347 dan turun drastis pada sesi siang, hingga bertengger di level 1331. Indeks menjelang penutupan mencoba menguat ke kisaran 1.343, meski masih berada di teritori negatif.

Head of Research Recapital Securities Poltak Hortadero menjelaskan rontoknya IHSG disebabkan memburuknya situasi pasar global dan regional. Hal ini terimbas bursa AS pada dinihari tadi anjlok akibat kekhawatiran sektor finansial menyusul ekspektasi likuiditas Citigroup yang merosot serta data penjualan retail AS yang turun 2,7 persen pada Desember 2008.

Bursa Wall Street pagi tadi memang melemah. Indeks Dow Jones terkoreksi 248,42 poin (2,94 persen) ke 8.200,14, indeks Nasdaq terkoreksi 56,82 poin (3,67 persen) ke 1.489,64 dan indeks S&P 500 turun 29,17 poin (3,35 persen) ke 842,62.

Bursa saham Asia sore ini juga terpantau dominan melemah sehingga menahan pergerakan IHSG. Indeks Hang Seng di Hong Kong ditutup jatuh 461,65 poin (3,37 persen) ke 13.242,96, serta indeks Nikkei 225 di bursa Jepang terkoreksi 415,14 poin (4,92 persen) ke level 8.023,31.

Selain itu, kata Poltak, para pelaku pasar kini merealisasikan portofolio yang dimilikinya. "Investor saat ini menunggu keluarnya laporan keuangan kuartal empat sekitar 3-4 pekan mendatang," imbuhnya.

Investor pun berekspektasi data ini akan menunjukkan kinerja yang memburuk. Terbukti dari keluarnya laporan keuangan beberapa emiten saat ini yang memperlihatkan hasil negatif.

Sentimen negatif juga masih ditunjukkan oleh saham PT Bumi Resources (BUMI) yang dinilai turut berkontribusi menyeret bursa ke teritori negatif. Saham PT Bumi Resources (BUMI) tumbang Rp 45 menjadi Rp 425. Investor masih mencermati transparansi perusahaan terkait akuisisi tiga perusahaan tambang batubara senilai Rp 6 triliun.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi sebanyak 32.654 kali dengan volume 2,164 miliar unit saham, senilai Rp 1,469 triliun. Sebanyak 17 saham naik, 108 saham turun dan 43 saham stagnan. (iw/fan)
Share:

0 komentar: