Senin, 16 Februari 2009

Bank Turunkan Suku Bunga setelah Penurunan BI Rate-LPS Rate

JAKARTA - Penurunan suku bunga acuan (BI rate) dan bunga penjaminan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) diprediksi para ekonom tidak akan secara otomatis menurunkan suku bunga perbankan. Meski begitu, penurunan BI rate dan LPS rate diyakini akan memberi semacam tekanan bank perbankan untuk menurunkan suku bunganya.

Chief Economist Bank BNI Tony Prasetiantono menilai, saat ini terjadi saling tunggu di kalangan perbankan untuk menurunkan bunga. Seharusnya, bank-bank papan atas yang masuk Top 5 (lima besar) sebagai pemimpin pasar mesti mengambil inisiatif. ''Jika mereka menurunkan bunga, itu akan diikuti bank yang lain. Ini berlaku tidak hanya dalam upaya menurunkan suku bunga simpanan, namun juga suku bunga kredit,'' kata Tony kemarin (15/2).

Saat ini, tutur dia, yang dibutuhkan adalah memecah kebuntuan di antara bank. Jika bank-bank pemimpin pasar berinisatif, Tony optimistis suku bunga bisa turun lebih cepat. ''Saya harap bank top 5 dapat berinisiatif. Saya prediksi sebelum pertengahan tahun, suku bunga kredit bisa turun ke level 12-13 persen,'' ujarnya.

Ekonom Bank BRI Joko Retnadi mengatakan, penurunan suku bunga, baik deposito maupun kredit, harus dilakukan bank-bank besar secara bersamaan. ''Kalau hanya satu bank saja, dia akan mati sendiri,'' ujar Joko. Saat ini, lanjut dia, ada kendala persepsi risiko industri yang masih tinggi. Jadi, bank belum dapat menurunkan bunga dengan cepat.

Chief Economist Bank Mandiri Group Mirza Adityaswara menilai sebenarnya saat ini likuiditas rupiah makin baik. Hanya, masih banyak menumpuk di bank-bank besar. Ini terbukti dari jumlah dana di SBI (sertifikat Bank Indonesia) yang sudah kembali menembus Rp 250 triliun.

Jika inflasi terus turun hingga 6 persen, BI rate bisa turun ke 7,5 dan LPS rate ke 8,25 persen. Jadi, bunga kredit pasti akan turun meski tidak secepat deposito. ''Tidak seragam turunnya. Sebab, bank harus berhati-hati menyalurkan kredit di masa resesi ekonomi dunia,'' kata Mirza.

Perbankan juga lebih berhati-hati karena, meski masih tinggi, rasio kecukupan modal (CAR) turun ke 16 persen. ''Ekspansi kredit akan lebih selektif,'' ujar Mirza. (sof/dwi)
Share:

0 komentar: