Jumat, 09 Januari 2009

Resesi Global Lebih Parah, PHK Melonjak

BRUSSELS - Ekonomi dunia diramalkan terpuruk lebih parah. Resesi global saat ini kemungkinan jauh lebih buruk. Indikasinya, antara lain, terlihat pada angka PHK (pemutusan hubungan kerja). Perusahaan di Eropa dan AS yang mem-PHK karyawannya terus bertambah dalam rangka memangkas biaya di tengah krisis finansial dan pelemahan ekonomi global.

Terpukul oleh kian memburuknya ekonomi dunia, para pelaku pasar merespons negatif. Bursa global pun berada dalam teritori merah (negatif) kemarin (8/1). Mengikuti terpuruknya Wall Street Rabu (7/1), indeks di bursa Asia dan Eropa melemah kemarin.

''Kalangan bisnis dilanda kepanikan. Perusahaan-perusahaan yang telah mem-PHK banyak karyawan akhir tahun lalu kini menyerah,'' kata Mark Zandi, chief economist di Moody's Economy.com.

Uni Eropa kemarin juga mengumumkan bahwa negara-negara pemakai mata uang Euro (Eurozone) resmi memasuki resesi pertama pada kuartal III tahun lalu. Menurut Badan Statistik Uni Eropa (Eurostat), dihadapkan pada krisis finansial terburuk, ekonomi 15 negara Eropa mengalami kontraksi 0,2 persen pada kuartal III setelah kontraksi di level yang sama pada kuartal II. Perlambatan itu menandai resesi pertama sejak Uni Eropa terbentuk pada 1999.

Kepercayaan konsumen dan bisnis di Eurozone juga terus melemah. Bahkan, indeks kepercayaan itu pada Desember lalu turun lebih tajam dibandingkan ekspektasi ke level terendah dalam 23 tahun.

Indikator sentimen ekonomi 15 negara Eurozone jatuh ke level 67,1 pada Desember lalu. Padahal, November lalu masih 74,9. Sementara di 27 negara Uni Eropa indikator sentimen ekonomi turun ke level 63,5 dibandingkan 70,5 bulan sebelumnya. Indikator iklim bisnis di Eurozone juga terpuruk menjadi minus 3,17 pada Desember lalu atau terendah sejak Januari 1985.

Angka pengangguran juga terus melonjak. Pada November lalu pengangguran di Eurozone mencapai 7,8 persen, sedangkan Oktober lalu 7,7 persen.

Angka PHK di AS juga melonjak. Data terbaru yang akan dirilis hari ini (9/1) memperkirakan jumlah PHK baru bisa mencapai 540 ribu atau melonjak dibandingkan pekan lalu sebesar 492 ribu. Jumlah pengangguran di negara adidaya itu diproyeksikan mendekati 4,5 juta orang. Hal itu mengindikasikan kesulitan mencari lapangan kerja baru.

Dengan meningkatnya pengangguran, konsumen di AS diperkirakan kian memperketat ikat pinggang atau belanjanya. Michael P. Niemira, chief economist pada the International Council of Shopping Centers, meramalkan data penjualan ritel pada Desember akan turun tajam atau menjadi musim liburan terburuk sejak 1969.

Sepanjang 2008, perusahaan memangkas gaji bagi sedikitnya 2,4 juta pekerja. Hal itu didasarkan pada proyeksi PHK tambahan 500 ribu pada Desember lalu dan angka PHK yang dilaporkan setiap bulan. Beberapa pihak malah memperkirakan angka PHK bulan lalu jauh lebih tinggi, yakni berkisar 600 ribu hingga 700 ribu. Departemen Tenaga Kerja AS akan merilis data resminya hari ini. (AP/AFP/dwi)
Share:

0 komentar: