Membaca, itulah modal utama bagi guru yang ingin membuat karya tulis ilmiah (KTI). "Tanpa membaca, jangan harap seorang guru dapat menyusun KTI dengan bagus. Calistung (baca, tulis, dan berhitung) itu penting," kata Dr Suyono MPd.
Karena pentingnya membaca, tiap kali berkunjung ke sekolah-sekolah (visitasi), kepala Pusat P2IPTEKS Lembaga Penelitian Unesa (2003-2008) itu mengaku selalu memberikan pengarahan tentang pentingnya membaca. Dia mengimbau guru agar membaca bahan bacaan apa saja yang dapat menambah pengetahuan. "Ada koran yang nyantol di sekolah saja sudah cukup bagus untuk bahan bacaan," katanya.
Meski ada koran, kata Suyono, tidak semua guru mau meluangkan waktu untuk membaca. Banyak guru yang hanya mau membaca buku ajar yang menjadi pedoman untuk mengajar murid mereka. Dengan demikian, kualitas bacaan para guru sama dengan bacaan murid. "Padahal, mereka dapat mencari bahan bacaan yang tingkatnya lebih tinggi," ujar dia.
Selain membaca, lanjut Suyono, yang dapat memicu para guru membuat KTI adalah minat dan motivasi eksternal. Meski sudah banyak membaca, tanpa memiliki minat yang kuat juga mustahil bagi guru untuk menyusun KTI. "Faktor pembiasaan juga penting untuk mendorong guru-guru menulis KTI," tambahnya.
Pembiasaan yang dimaksud adalah adanya aturan yang mewajibkan para guru menulis KTI. Seperti halnya aturan yang diterapkan bagi dosen selama ini. Tanpa tuntutan membuat karya tulis, belum tentu dosen bersemangat membuat karya tulis. "Kalau menunggu kesadaran menulis, tanpa dorongan yang bersifat kewajiban, butuh waktu lama menumbuhkan kemauan para guru untuk membuat KTI," ujarnya.
Hal lain yang dianggap berpengaruh terhadap minat para guru untuk membuat KTI adalah motivasi dari pihak luar (eksternal). Pemberian block grant untuk menyusun KTI bisa dianggap sebagai faktor eksternal. Bantuan tersebut diharapkan menarik minat para guru untuk mendaptkan kesempatan membuat KTI dengan dana dari pemerintah.
Tentu, semua factor pendukung itu tak banyak berarti bila para guru tidak mumpuni menulis karya ilmiah. Karena itu, Suyono berharap para guru memanfaatkan lokakarya KTI. Di sini, para guru tidak hanya akan mendapatkan ilmu pembuatan KTI yang baik dan benar. Mereka juga bisa mulai menyusun KTI. Sebab, selama mengikuti semiloka KTI, mereka dibimbing membuat KTI. (may/soe)






2 komentar:
Membaca memang penting mas...???
yupz.....!!! bener sekali....!!!
Posting Komentar