BOJONEGORO - Satu orang dilaporkan tewas dalam bentrokan antara perguruan silat Kera Sakti dan Setia Hati (SH) Terate di Desa Banjarejo, Kecamatan Sumberrejo, sekitar pukul 14.00 kemarin (25/1).
Korban tewas bernama Mulyo Budi Utomo, warga Desa Mlinjeng, Kecamatan Sumberrejo. Hingga berita ini diturunkan, aparat Polsek Sumberrejo masih memeriksa lima orang saksi dari dua perguruan yang terlibat bentrok tersebut.
Kapolres Bojonegoro AKBP Agus S. Hidayat mengungkapkan, kejadian itu bermula saat belasan massa dari perguruan Kera Sakti baru pulang menghadiri sebuah acara di Desa Mlinjeng. "Saat itu mereka menggunakan beberapa motor,'' tegasnya kepada Radar Bojonegoro kemarin petang.
Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh beberapa orang yang diduga berasal dari perguruan SH Terate. Beberapa saat kemudian kedua kelompok perguruan tersebut terlibat tawuran. Namun, dari arah belakang datang massa dari Kera Sakti dengan menumpang truk yang baru pulang dari kegiatan. Pertarungan menjadi tak seimbang. "Akibatnya korban (Mulyo Budi Utomo, anggota SH Terate) luka parah dan dibawa ke RSUD Sumberrejo bersama beberapa di antara mereka yang luka,'' papar Kapolres.
Saat polisi tiba di TKP (tempat kejadian perkara), kondisi sudah sepi. Selanjutnya korban meninggal dunia dibawa ke RSUD dr R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro untuk diotopsi. "Korban mengalami luka serius dan robek di bagian kepala," terang pria asal Jawa Barat tersebut.
Sejauh ini, pihaknya telah meminta keterangan para saksi dari kedua perguruan silat itu.
Untuk meredakan ketegangan susulan, Kapolres berencana mempertemukan kedua pimpinan perguruan silat tersebut. "Mereka seapakat menyerahkan masalah ini ke polisi untuk diambil tindakan secara hukum,'' tegasnya.
Karena itu, Agus mengimbau kepada semua warga masyarakat, terutama dua kelompok perguruan tersebut, untuk menahan diri. Dia meminta agar instruksi pimpinan masing-masing perguruan untuk menyerahkan ke masalah ini secara hukum, ditaati. "Karena itu kami akan bertindak cepat dan yang salah pasti ditindak,'' tandasnya.
Agus menambahkan, untuk menjaga situasi tetap kondusif, saat ini sekitar dua SST (satuan setingkat pleton) atau 60 personel polisi bersiaga di Mapolsek Sumberrejo dan TKP. Jumlah tersebut bisa saja ditambah jika kondisi memburuk.
Menurut dia, pengerahan pasukan ini sebagai bentuk antisipasi kemungkinan adanya aksi balas dendam dari kelompok yang tidak puas. "Tapi kami akan bertindak tegas jika ada yang memanas-manasi dan membuat situasi tak kondusif,'' tegasnya. (ade)






0 komentar:
Posting Komentar